Begini Alasan Mengapa Mahasiswa Salah Jurusan Adalah yang Paling Berpotensi Menjadi Zuckerberg Selanjutnya


Kita sudah sama-sama mengetahui; kalau Mark Zuckerberg, si empu Facebook adalah salah satu mahasiswa salah jurusan. Pria berusia 32 tahun tersebut, pernah tergabung dalam bagian dari keluarga jurusan Psikologi di Hardvard. Lantas, bagaimana caranya kita meniru Zuckerberg?

Jawabannya adalah menggabungkan jurusan yang terlanjur kita masuki, dengan minat kita sebenarnya.

Seperti Zuckerberg, ia adalah mahasiswa jurusan psikologi, namun aktif di Alpha Eplison Pi; sebuah kelompok yang gemar membuat program komputer. Mark menunjukan bahwa ia terus menekuni minatnya, meskipun berada di jurusan yang salah. Tentu, kita bisa meniru dengan tetap menekuni minat kita yang sebenarnya.

Zuckerberg menunjukan semangat pantang menyerah untuk memperjuangkan apa yang ia yakini, dan tetap mengasah bidangnya, ketika ia membuat project lainnya; Facemash. Ia sedikit nakal karena di situs ciptaannya kali ini, ia menjajakan foto dan data teman-teman perempuannya (para mahasiswi Hardvard), dan melakukan paling tentang siapa yang paling ‘hot’. Akibatnya, petinggi Hardvard murka, menutup situs, lalu menghukumnya. Tapi, sekali lagi ia tidak pernah menyerah. Hanya selang tiga bulan setelah hukuman itu, ia merilis Facebook (4 Februari 2004), dan ternyata disambut teman-temannya dengan sukses besar.
Itu adalah sepenggal cerita yang datang dari tahun 2004, sekarang, 13 tahun kemudian Facebook sudah sangat besar dan memberi banyak kontribusi pada peradaban manusia. Itu berkat Zuckerberg yang kekeh pada pendiriannya, dan meyakini apa yang minati.

Facebook sendiri bisa mencerminkan dunia psikologi, ketertarikan pria kelahiran New York ini pada hubungan antar manusia di muka bumi, bagaimana cara mereka berkomunikasi, dan lainnya. Hanya saja, Zuckerberg juga menggabungkannya dengan ilmu komputasi, juga programming. Jika saja, ia tidak pernah masuk ke jurusan psikologi, bisa jadi Facebook akan sangat berbeda dengan Facebook yang kita kenal seperti sekarang ini.

Kita juga bisa mengambil contoh lain, misalkan kamu kuliah di jurusan akuntansi sedangkan kamu jauh lebih tergila-gila dengan dunia startup. Nah, ketika mencoba mulai menjalankan startup, kamu tentu tidak akan kesulitan dalam hal mengatur pembukuan keuangan perusahaan rintisan kamu tersebut, mengaturnya supaya lebih tepat sasaran. Ini bisa kamu lakukan sendiri loh, tanpa harus merekrut CFO.

Ini sebuah keuntungan untuk kamu, karena memiliki kesempatan yang tidak banyak mahasiswa lain memilikinya. Kamu bisa menggabungkan ke dua bidang yang kamu genggam, menyatukannya hingga menjadi sesuatu yang berharga. Sekarang coba duduk tenang, masuk ke dalam kepalamu, pikirkan apa jurusan kamu sekarang dengan minat kamu yang sebenarnya, biar isi kepalamu menjadi liar, dan temukan sesuatu, yang bisa jadi sebuah ide besar dari penggabungan dua bidang tersebut.

Pada akhirnya, ketekunan, keyakinan, semangat pantang menyerah Zuckerberg lah yang membawanya pada kesuksesan, hingga ia berhasil menyabet gelar orang terkaya nomor 5 di muka bumi, dengan usia yang semuda itu. Ia adalah billionare paling berhasil di usia paling muda. Yang lebih penting lagi, suami Priscilla Chan tersebut, sudah memberikan sumbangsih untuk perjalanan peradaban manusia, ia memberi pengaruh, sehingga dunia bisa sedikit lebih baik.

Nah, apa nih kira-kira yang bakal kamu ciptakan, untuk membuat dunia sedikit lebih baik lagi?

Memang, salah jurusan sangat mungkin membuat kita putus asa, mengira bahwa yang kita lakukan hanya sebuah buang-buang waktu tanpa ada manfaatnya. Namun, dari kisah pendiri Facebook ini bisa jadi kamu mendapatkan semangatmu kembali; bahwa tak ada yang disebut kesia-siaan di dunia ini, selama kita terus berjuang.


Tommi Pringadi

No comments:

Post a Comment